NAMA : LA ODE AWAL RAMADHAN
NPM : 17 630 067
TUGAS : STATISTIK / PROBABILITAS
UJI CHI KUADRAT
Chi-Square disebut juga dengan Chi Kuadrat.
Chi Square adalah salah satu jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan
pada dua variabel, di mana skala data kedua variabel adalah nominal. (Apabila
dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan skala nominal maka dilakukan uji chi
square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji pada derajat yang terendah).
Uji chi-square merupakan uji non parametris yang
paling banyak digunakan. Namun perlu diketahui syarat-syarat uji ini adalah:
frekuensi responden atau sampel yang digunakan besar, sebab ada beberapa syarat
di mana chi square dapat digunakan yaitu:
1.
Tidak ada cell dengan nilai frekuensi
kenyataan atau disebut juga Actual
Count (F0) sebesar 0 (Nol).
2.
Apabila bentuk tabel kontingensi 2 X 2, maka
tidak boleh ada 1 cell saja yang memiliki frekuensi harapan atau disebut juga expected count (“Fh”)
kurang dari 5.
3.
Apabila bentuk tabel lebih dari 2 x 2, misak
2 x 3, maka jumlah cell dengan frekuensi harapan yang kurang dari 5
tidak boleh lebih dari 20%.
Rumus chi-square sebenarnya tidak hanya ada
satu. Apabila tabel kontingensi bentuk 2 x 2, maka rumus yang digunakan adalah
“koreksi yates”.
Apabila tabel kontingensi 2 x 2 seperti di
atas, tetapi tidak memenuhi syarat seperti di atas, yaitu ada cell dengan
frekuensi harapan kurang dari 5, maka rumus harus diganti dengan rumus “Fisher
Exact Test”.
Pada artikel ini, akan fokus pada rumus untuk
tabel kontingensi lebih dari 2 x 2, yaitu rumus yang digunakan adalah “Pearson
Chi-Square”.
Rumus Tersebut adalah:
Uji kai kuadrat (dilambangkan dengan “χ2” dari huruf Yunani “Chi” dilafalkan “Kai”) digunakan untuk menguji dua kelompok data
baik variabel independen maupun dependennya berbentuk kategorik atau dapat juga
dikatakan sebagai uji proporsi untuk dua peristiwa atau lebih, sehingga datanya
bersifat diskrit. Misalnya ingin mengetahui hubungan antara status gizi ibu
(baik atau kurang) dengan kejadian BBLR (ya atau tidak).
Dasar uji kai kuadrat itu sendiri adalah
membandingkan perbedaan frekuensi hasil observasi (O) dengan frekuensi yang
diharapkan (E). Perbedaan tersebut meyakinkan jika harga dari Kai Kuadrat sama
atau lebih besar dari suatu harga yang ditetapkan pada taraf signifikan
tertentu (dari tabel χ2).
Uji Kai Kuadrat dapat digunakan untuk menguji
:
1.
Uji χ2 untuk ada
tidaknya hubungan antara dua variabel (Independency
test).
2.
Uji χ2 untuk
homogenitas antar- sub kelompok (Homogenity
test).
3.
Uji χ2 untuk
Bentuk Distribusi (Goodness of Fit)
Sebagai rumus dasar dari uji Kai Kuadrat
adalah :
Keterangan :
O = frekuensi hasil observasi
E = frekuensi yang diharapkan.
Nilai E = (Jumlah sebaris x Jumlah Sekolom) / Jumlah
data
df
= (b-1) (k-1)
Dalam melakukan uji kai kuadrat, harus
memenuhi syarat:
1.
Sampel dipilih secara acak
2.
Semua pengamatan dilakukan dengan
independen
3.
Setiap sel paling sedikit berisi frekuensi
harapan sebesar 1 (satu). Sel-sel dengdan frekuensi harapan kurang dari 5 tidak
melebihi 20% dari total sel
4.
Besar sampel sebaiknya > 40 (Cochran,
1954)
Keterbatasan penggunaan uji Kai Kuadrat adalah
tehnik uji kai kuadarat memakai data yang diskrit dengan pendekatan distribusi
kontinu.Dekatnya pendekatan yang dihasilkan tergantung pada ukuran pada
berbagai sel dari tabel kontingensi. Untuk menjamin pendekatan yang memadai
digunakan aturan dasar “frekuensi harapan tidak boleh terlalu kecil” secara
umum dengan ketentuan:
1.
Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai
harapan lebih kecil dari 1 (satu)
2.
Tidak lebih dari 20% sel mempunyai nilai
harapan lebih kecil dari 5 (lima)
Bila hal ini ditemukan dalam suatu tabel
kontingensi, cara untuk menanggulanginyanya adalah dengan menggabungkan nilai
dari sel yang kecil ke se lainnya (mengcollaps), artinya kategori dari variabel
dikurangi sehingga kategori yang nilai harapannya kecil dapat digabung ke
kategori lain. Khusus untuk tabel 2×2 hal ini tidak dapat dilakukan, maka
solusinya adalah melakukan uji
Analisis Chi Square
Contoh kasus
Contoh kasus
Perusahaan penyalur alat elektronik AC ingin
mengetahui apakah ada hubungan antara gender dengan sikap mereka terhadap
kualitas produk AC. Untuk itu mereka meminta 25 responden mengisi identitas
mereka dan sikap atau persepsi mereka terhadap produknya.
Permasalahan : Apakah ada hubungan antara
gender dengan sikap terhadap kualitas AC?
Hipotesis :
·
H0 = Tidak ada hubungan antara gender dengan
sikap terhadap kualitas AC
·
H1 = Ada hubungan antara gender dengan sikap
terhadap kualitas AC
Tolak hipotesis nol (H0) apabila nilai
signifikansi chi-square < 0.05 atau nilai chi-square hitung lebih besar
(>) dari nilai chi-square tabel.
Independensi (keterkaitan) antara 2 faktor
dapat diuji dengan uji chi square. Masalah independensi ini banyak
mendapat perhatian hampir di semua bidang, baik eksakta maupun sosial
ekonomi. Kita ambil contoh di bidang ekonomi dan pendidikan. Kita
bisa menduga bahwa keadaan ekonomi seseorang tidak ada kaitannya dengan tingkat
pendidikannya, atau justru sebaliknya bahwa keadaan ekonomi seseorang
terkait erat dengan tingkat pendidikannya. Untuk menjawab dugaan-dugaan
ini, kita bisa menggunakan uji chi square.
Langkah-langkahnya sebagai berikut.
Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1.
Buatlah hipotesis
H0: tidak ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
HA: ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
H0: tidak ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
HA: ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
2.
Lakukan penelitian
dan kumpulkan data
Hasil penelitian adalah sebagai berikut
(tentatif).
Kategori
|
Di bawah garis kemiskinan
|
Di atas garis kemiskinan
|
Total
|
Tidak
tamat SD
|
8
|
4
|
12
|
SD
|
20
|
17
|
37
|
SMP
|
15
|
16
|
31
|
SMA
|
3
|
23
|
26
|
Perguruan
Tinggi
|
2
|
22
|
24
|
Total
|
48
|
82
|
130
|
3.
Lakukan analisis
Kategori
|
Di bawah garis
kemiskinan
|
Di atas garis
kemiskinan
|
Total
|
Tidak
tamat SD
O
E
|
8
4,43
|
4
7,57
|
12
|
SD
O
E
|
20
13,66
|
17
23,34
|
37
|
SMP
O
E
|
15
11,45
|
16
19,55
|
31
|
SMA
O
E
|
3
9,60
|
23
16,40
|
26
|
Perguruan
Tinggi
O
E
|
2
8,86
|
22
15,14
|
24
|
Total
|
48
|
82
|
130
|
Nilai O (Observasi) adalah nilai pengamatan
di lapangan
Nilai E (expected) adalah nilai yang diharapkan, dihitung sbb:
1. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di bawah garis kemiskinan= (12 x 48)/130 = 4,43
2. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di atas garis kemiskinan = (12 x 82)/130 = 7,57
3. Nilai E untuk kategori SD di bawah garis kemiskinan = (37 x 48)/130 = 13,66
4. Nilai E untuk kategori SD di atas garis kemiskinan = (37 x 82)/130 = 23,34
5. Nilai E untuk kategori SMP di bawah garis kemiskinan = (31 x 48)/130 = 11,45
6. Nilai E untuk kategori SMP di atas garis kemiskinan = (31 x 82)/130 = 19,55
7. Nilai E untuk kategori SMA di bawah garis kemiskinan = (26 x 48)/130 = 9,60
8. Nilai E untuk kategori SMA di atas garis kemiskinan = (26 x 82)/130 = 16,40
9. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di bawah garis kemiskinan = (24 x 48)/130 = 8,86
10. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di atas garis kemiskinan = (24 x 82)/130 = 15,14
Nilai E (expected) adalah nilai yang diharapkan, dihitung sbb:
1. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di bawah garis kemiskinan= (12 x 48)/130 = 4,43
2. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di atas garis kemiskinan = (12 x 82)/130 = 7,57
3. Nilai E untuk kategori SD di bawah garis kemiskinan = (37 x 48)/130 = 13,66
4. Nilai E untuk kategori SD di atas garis kemiskinan = (37 x 82)/130 = 23,34
5. Nilai E untuk kategori SMP di bawah garis kemiskinan = (31 x 48)/130 = 11,45
6. Nilai E untuk kategori SMP di atas garis kemiskinan = (31 x 82)/130 = 19,55
7. Nilai E untuk kategori SMA di bawah garis kemiskinan = (26 x 48)/130 = 9,60
8. Nilai E untuk kategori SMA di atas garis kemiskinan = (26 x 82)/130 = 16,40
9. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di bawah garis kemiskinan = (24 x 48)/130 = 8,86
10. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di atas garis kemiskinan = (24 x 82)/130 = 15,14
Hitung nilai Chi square (x^2)
TABEL CHI-SQUARE
4.
Kriteria
Pengambilan Kesimpulan
Kesimpulan
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai x^2 hitung = 26,586, yaitu lebih besar darinilai x^2 tabel yaitu 9,488, sehingga kita harus menerima HA. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa ada kaitan yang signifikan antara keadaan ekonomi seseorang dengan tingkat pendidikannya (lihat lagi hipotesis di atas, khususnya bunyi hipotesis HA).
Catatan: kata signifikan berasal dari α = 0,05.
Kesimpulan
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai x^2 hitung = 26,586, yaitu lebih besar darinilai x^2 tabel yaitu 9,488, sehingga kita harus menerima HA. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa ada kaitan yang signifikan antara keadaan ekonomi seseorang dengan tingkat pendidikannya (lihat lagi hipotesis di atas, khususnya bunyi hipotesis HA).
Catatan: kata signifikan berasal dari α = 0,05.
2.
Menguji proporsi
Contoh kasus (1):
Menurut teori genetika (Hukum Mendel I)
persilangan antara kacang kapri berbunga merah dengan yang berbunga putih akan
menghasilkan tanaman dengan proporsi sebagai berikut: 25% berbunga merah, 50%
berbunga merah jambu, dan 25% berbunga putih. Kemudian, dari suatu
penelitian dengan kondisi yang sama, seorang peneliti memperoleh hasil
sebagai berikut, 30 batang berbunga merah, 78 batang berbunga merah jambu, dan
40 batang berbunga putih. Pertanyaannya adalah apakah hasil penelitian si
peneliti tersebut sesuai dengan Hukum Mendel atau tidak?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa
menggunakan uji chi-square, sebagai berikut:
1.
Buatlah hipotesis
H0: rasio penelitian adalah 1:2:1 atau 25%:50%:25%
HA: rasio penelitian adalah rasio lainnya
H0: rasio penelitian adalah 1:2:1 atau 25%:50%:25%
HA: rasio penelitian adalah rasio lainnya
2.
Lakukan analisis
Kategori
|
Merah
|
Merah
Jambu
|
Putih
|
Jumlah
|
Pengamatan
(O)
|
30
|
78
|
40
|
148
|
Diharapkan
(E)
|
37
|
74
|
37
|
148
|
Proporsi diharapkan (E) dicari berdasarkan
rasio 1:2:1, sebagai berikut:
Merah = 1/4 x 148 = 37
Merah Jambu = 2/4 x 148 = 74
Merah = 1/4 x 148 = 37
Merah Jambu = 2/4 x 148 = 74
Putih
= 1/4 x 148 = 37
Df = (kolom -1)(baris -1) = (3-1)(2-1) = 2
Kriteria
Pengambilan Kesimpulan
Terima H0 jika x^2 hitung< x^2 tabel
Tolak H0 jik x^2 hitung≥ x^2 tabel
Terima H0 jika x^2 hitung< x^2 tabel
Tolak H0 jik x^2 hitung≥ x^2 tabel
Kesimpulan
Dari hasil analisis data, diperoleh x^2 hitung< x^2 tabel, maka H0 diterima.
Artinya, rasio hasil penelitian si peneliti tersebut sesuai dengan rasio menurut Hukum Mendel (lihat bunyi hipotesis pada H0).
Dari hasil analisis data, diperoleh x^2 hitung< x^2 tabel, maka H0 diterima.
Artinya, rasio hasil penelitian si peneliti tersebut sesuai dengan rasio menurut Hukum Mendel (lihat bunyi hipotesis pada H0).
Contoh Kasus
(2):
Suatu survey ingin mengetahui apakah ada hubungan Asupan Lauk dengan kejadian Anemia pada penduduk desa X. Kemudian diambil sampel sebanyak 120 orang yang terdiri dari 50 orang asupan lauknya baik dan 70 orang asupan lauknya kurang. Setelah dilakukan pengukuran kadar Hb ternyata dari 50 orang yang asupan lauknya baik, ada 10 orang yang dinyatakan anemia. Sedangkan dari 70 orang yang asupan lauknya kurang ada 20 orang yang anemia.Ujilah apakah ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut.
Jawab :
HIPOTESIS :
Ho : P1 = P2 (Tidak ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
Ho : P1 ≠ P2 (Ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
Suatu survey ingin mengetahui apakah ada hubungan Asupan Lauk dengan kejadian Anemia pada penduduk desa X. Kemudian diambil sampel sebanyak 120 orang yang terdiri dari 50 orang asupan lauknya baik dan 70 orang asupan lauknya kurang. Setelah dilakukan pengukuran kadar Hb ternyata dari 50 orang yang asupan lauknya baik, ada 10 orang yang dinyatakan anemia. Sedangkan dari 70 orang yang asupan lauknya kurang ada 20 orang yang anemia.Ujilah apakah ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut.
Jawab :
HIPOTESIS :
Ho : P1 = P2 (Tidak ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
Ho : P1 ≠ P2 (Ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
PERHITUNGAN :
Untuk membantu dalam perhitungannya kita membuat tabel silangnya seperti ini :
Untuk membantu dalam perhitungannya kita membuat tabel silangnya seperti ini :
Kemudian tentukan nilai observasi (O) dan
nilai ekspektasi (E) :
Selanjutnya masukan dalam rumus :
sekarang kita menentukan nilai tabel pada
taraf nyata/alfa = 0.05. Sebelumnya kita harus menentukan nilai df-nya. Karena
tabel kita 2×2, maka nilai df = (2-1)*(2-1)=1.
Dari tabeli kai kudrat di atas pada df=1 dan
alfa=0.05 diperoleh nilai tabel =
3.841.
KEPUTUSAN
STATISTIK
Bila nilai hitung lebih kecil dari nilai tabel, maka Ho gagal ditolak, sebaliknya bila nilai hitung lebih besar atau sama dengan nilai tabel, maka Ho ditolak.
Bila nilai hitung lebih kecil dari nilai tabel, maka Ho gagal ditolak, sebaliknya bila nilai hitung lebih besar atau sama dengan nilai tabel, maka Ho ditolak.
Dari perhitungan di
atas menunjukan bahwa χ2 hitung < χ2 tabel,
sehingga Ho gagal ditolak.
KESIMPULAN
Tidak ada perbedaan yang bermakna proporsi antara kedua kelompok tersebut. Atau dengan kata lain tidak ada hubungan antara asupan lauk dengan kejadian anemia.
Tidak ada perbedaan yang bermakna proporsi antara kedua kelompok tersebut. Atau dengan kata lain tidak ada hubungan antara asupan lauk dengan kejadian anemia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar